Home » Fiksi
Bulan Sudah Tenggelam
Bulan menunduk lesu sambil menyandarkan diri ketembok. Tembok itu adalah bangunan mushola yang setiap hari ia lalui. Ia mengeluarkan isi dari wadah gelas bekas minuman mineral. Mengobrak-abrik isinya dan memilih yang menurutnya paling berharga. Tentu saja semua yang digelas bekas air mineral itu berharga. Tapi, seperti biasa terlebih dahulu ia akan memilih-milih kemudian menghitung jumlahnya.
Uang...
Cahaya Hati
“Hanya bila diri-Mu”
“Ingin nyatakan cinta”
“Pada jiwa-jiwa yang rela”
“Dia kekasih-Mu……..”
Sepenggal lagu Opick yang berjudul “Cahaya Hati” mengantarkan aku menuju alam mimpi. Malam yang dingin, menguapkan keinginan untuk sekedar duduk santai, menyaksikan tayangan acara televisi seperti malam-malam sebelumnya. Tapi, mataku ini enggan cepat terpejam. Mataku masih liar menyebar...
PURNAMA TAK DINANTI
“Aduuuhhh…. sakit…. Sakit……” Nani mengerang sejadi – jadinya. Perutnya terasa melilit. Seakan ada yang berputar putar didalamnya. Bahkan seiring berputarnya detik, perutnya itu semakin sakit saja.
“ Sabar ya, Neng. Tinggal satu dorongan lagi, pastinya keluar.” Seorang Bidan member motivasi.
“Iya. Kepalanya sudah keliatan tuh.” Seorang dukun beranak ikut mengamini.
“Aduuh…....
BAYIKU SAYANG BAYIKU MALANG
DIA menatap strip itu lekat-lekat. Jelas ada dua garis merah. Meskipun dia mengkhayalkan garis kedua itu hanya ilusi semata, garis itu tetap tegas di kedua matanya. Dua garis merah memaparkan kenyataan yang melahirkan gambaran-gambaran masa depannya yang hancur dan terkoyak.
Otaknya mulai mencari data-data memori yang mungkin bisa memecahkan kasusnya. Sia-sia. Otaknya bekerja terlalu cepat hingga data-data...
Izinkan Aku Semalam Di Tanah Rosulullah (1)
Aku menatap rindu pada sebuah gambar lusuh. Tapi, gambar itu selalu ku simpan baik-baik, menyimpannya pun tak sembarang tempat . Sebuah kotak kecil yang dilengkapi kunci gembok , disanalah aku menyimpan gambar yang ku anggap agung itu.
Ada rindu yang menggebu, setiap kali aku memandang gambar itu. Diakhiri dengan cucuran air mata yang deras dari dua sudut mataku, setiap kali mengingat betapa kecilnya...
Perempuan Dini Hari
Sebulan yang lalu…
Jarum panjang pada jam dinding menunjukan pukul empat pagi, masih dini hari. Adzan shubuh pun belum dikumandangkan oleh muadzin sepuh yang biasa berkumandang di mushola belakang rumahku. Baru tarhim atau pujian sebelum dimulai adzan shubuh. Ku tajamkan kembali penglihatanku pada jam weker yang berada di meja samping tempat tidurku. Ternyata benar, baru jam empat pagi.
Berkali-kali...


